Welcome

Assalamualaykum, Welcome To My Blog

Rabu, 21 Maret 2018

Testimoni untuk Kenalan #1: Ahmad Fathul Bari (Bang Ai)

"Kalian adalah minoritas kreatif!"๐Ÿ‘ฌ๐Ÿ‘ฌ๐Ÿ‘ฌ๐Ÿ‘ฌ
(Ahmad Fathul Bari, 14 Agustus 2006)

Bang Ahmad Fathul Bari atau bang Ai, saya sudah mengetahui nama lengkapnya ketika saya masih kelas 3 SMA. Iya, saya belum masuk UI. Kok bisa tahu? Jadi kakak ketiga saya yakni Hendaru Tri Hanggoro yang sudah jadi Mahasiswa Sejarah FIB UI angkatan 2005, suatu ketika membawa selebaran Calon Ketua-Wakil Ketua BEM UI ke rumah dan itu adalah selebarannya bang Ai-bang Habibi Yusuf Sarjono sebagai Calon Ketua-Wakil Ketua BEM UI 2006/2007.๐Ÿ“ฐ

Oh ya, zaman itu kampanye emang masih pake selebaran kertas, belom make media sosial kayak sekarang. Saya harus jelasin ini karena inget cerita kemaren dari Pak Rizki Kramadibrata, Managing Directornya Grab Indonesia, kalo anaknya nanya dulu chatting gimana, padahal gak ada internet.๐Ÿ˜‚

Saya membaca selebaran itu yang memuat daftar organisasi mereka dan berkata dalam hati, "Ini orang berdua pasti orang hebat nih."๐Ÿค”

Di kepala saya yang masih SMA kala itu, sebenernya saya gak kebayang bakalan kenal mereka berdua bahkan bakalan ngobrol-ngobrol santai, lah wong kebayang jadi mahasiswa UI aja masih mengawang-ngawang apalagi menurut test-test di Nurul Fikri Akses UI, saya gak bakalan tembus masuk UI pilihan pertama maupun kedua.๐Ÿ˜ญ

Qadarullah, ada Program Studi baru yang dibuka di UI tahun 2006 itu dengan ujian masuk tersendiri (susulan) dengan soal-soal kayak SPMB, bukan ujian bahasa Korea yak, jadi sekali lagi kalo ada yang nanya, kenapa saya masuk jurusan Sastra Korea/Bahasa dan Kebudayaan Korea yah jawabannya karena kepleset, hehehe, tapi saya tetap bangga jadi alumni BKK FIB UI. (Lah ini ngapa jadi cerita saya, kan mau cerita bang Ai).๐Ÿ˜…

Singkat cerita, saya jadi mahasiswa baru UI angkatan 2006, nah di UI, kalo yang belom tau, ospeknya namanya OKK, kepanjangan dari Orientasi Kehidupan Kampus. Di situlah akhirnya saya mendengar langsung Bang Ai berbicara, yang kemudian saya tahu itu bukan berbicara biasa tapi orasi. Kutipan di awal tadi adalah kalimat yang saya selalu ingat darinya. Bahkan, saya gak ingat rektor berbicara apa dan yang lain ngomongin apa.๐Ÿ˜ต

Impresi pertama saya terhadap Bang Ai adalah orang yang punya percaya diri tinggi walaupun (maaf Bang) kalo dilihat 'kan Bang Ai lehernya sengklek (maaf nih sekali lagi) tapi itu tidak membuat dia minder lebih jauh Bang Ai bisa menjadi Ketua BEM UI. Saya menjawab ke teman duduk sebelah saya. (sialnya saya lupa siapa) Dia nyeletuk, "Gua mau jadi Ketua BEM juga ah, biar dilihat orang banyak, karena gua pendek." ๐Ÿ˜ข

Saya timpalin dengan, "Itu orang lehernya sengklek aja bisa jadi Ketua BEM UI, jadi siapa aja bisa jadi Ketua BEM coy, di UI lu bisa jadi apa aja kayaknya kalo lu mau." (Sesuatu yang kemudian ternyata gak begitu, hahaha). (anyway, sekali lagi maaf bukan maksud nyinggung fisik tetapi bagian dari inspirasi, Insya Allah).๐Ÿ™

Beberapa waktu berjalan setelah OKK 2006, saya tentunya berkenalan dengan beberapa teman yang seangkatan. Banyak dari mereka yang ingin menjadi seperti Bang Ai. Bahkan, yak, ada beberapa kenalan khususnya yang cewek yang mengidolakan Bang Ai. (Gak mau nyebut nama-namanya)๐Ÿ˜ฌ

Bang Ai, menurut saya, kemudian jadi kayak kultus individu, ketika banyak orang memujinya dan diam-diam ingin menjadi sepertinya. Ini di pikiran saya saja ya.๐Ÿ˜ƒ

Saya sendiri tidak berinteraksi lagi dengan Bang Ai pasca orasi di OKK 2006 itu. Training-training yang dia lagi ngisi, saya justru absen karena tugas kuliah atau ingin beristirahat di rumah.๐Ÿ’ค

Sampai tahun 2008, ketika Mas Muhammad Zulifan "ngantor" di salah satu ruangan selasar utara Masjid UI, saya sering main ke sana buat ngenet gratis dan nyaman, hehehe, zaman itu sekali lagi ngenet masih susah. Bang Ai juga kebetulan sering main ke sana. Ternyata setelah kenal dekat, Bang Ai orangnya asyik juga, walaupun tetap karismatik tapi kalo lagi bercanda caur juga. Saya pernah bilang ke dia, "Bang, angkatan saya banyak yang mau jadi kayak Abang." Dia jawab sambil bercanda, "Berguru dulu sini sama saya."๐Ÿ˜ณ

Plus tahun itu juga saya jadi dekat sama Miko yang kebetulan satu kosan dengan Mas Ifan dan Bang Zainal, Bang Ai juga sering mampir ke sana. Di suatu diskusi tentang politik kampus, negara dan agama, Bang Ai yang biasanya mendominasi diskusi akhirnya "kalah" sama Miko. Karena Miko dengan karakter kerasnya gak mau didikte sama Bang Ai dan itu kejadian juga pas Miko mau maju jadi DPM FIB dari independen, Miko gak mau diatur sama Bang Ai pas lagi di-drill sama Bang Ai kalo calon yang laen kan pasti manut aja. ๐Ÿคฃ

Maka kesan selanjutnya setelah kenal dekat dengan Bang Ai adalah orang yang memang berkarisma tetapi masih bisa bercanda juga memang punya dialektika.๐Ÿ‘

Ada satu cerita yang paling berkesan tentang Bang Ai. Jadi, waktu itu saya dan beberapa kawan lagi di Pusgiwa UI, itu zaman konflik Pemira UI 2010 (Ini kalo diceritain bisa panjang lagi dah).๐Ÿ˜›

Kami yang di Pusgiwa lagi menghitung suara sampai datang Emak. Emak bilang, "Bisa tolongin Emak? Kulkas Emak kok gak dingin lagi ya? Kayaknya rusak, emak gak bisa bikin es lagi, tolong teleponin nomor ini."☎

Saya pikir awalnya, "Oh, nomor tukang service kulkas kali nih." Eh pas saya pencet nomornya, kok yang keluar namanya 'Bang Ai FIB Sejarah 2005.' Saya langsung off dulu call-nya dan nanya ke Emak, "Emak ini bener nomornya? Kok nomor Bang Ai?"๐Ÿ˜•

Emak jawab, "Iya bener, itu nomornya Ai, udah ditelepon? Emak mau ngomong aja sama Ai."
"Oh, belum Mak, sebentar saya telepon lagi."๐Ÿ“ฒ

Setelah tersambung saya jelaskan kronologisnya dan serahkan handphone Esia saya ke Emak. (iya dulu saya masih pakai Esia!)
Emak berbicara dengan Bang Ai kemudian kembali menyerahkan handphone ke saya, bang Ai bilang akan nelponin tukang service kulkas.๐Ÿ†’

Saya termenung kalau mengingat cerita ini, seorang mantan ketua BEM yang udah pensiun dan lulus dari 3 tahun lalu malah yang diinget oleh Emak (kalo anak Pusgiwa UI, pasti tau semua Emak siapa) lah ketua BEM-Ketua BEM lainnya kenapa ya?๐Ÿ˜’

Ini membuat saya menambah kesan saya terhadap Bang Ai yang ternyata memang mengayomi semua orang.๐Ÿ‘

Lama lagi gak berinteraksi dengan Bang Ai, sampai dibuat grup WhatsApp beberapa alumni FIB, dan kemudian diajakin ketemuan di Martabak Kubang buat ngobrol sama Bang Arif Budhi Hardono yang lagi nyalon jadi Ketua ILUNI UI. Bang Ai gak banyak berubah, dia masih tetap jago nge-lead diskusi dan pembicaraan, ide-idenya buat kampanye, dan mimpi besarnya buat alumni UI, dia jabarin semua secara runut ke Bang ABH. Pas Bang ABH kepilih jadi Ketua ILUNI UI, bang Ai pun ditarik jadi salah satu Ketua Harian di ILUNI UI. (Satu-satunya Ketua Harian dari angkatan kepala 2000-an!)๐Ÿ˜ฎ

Dua hari yang lalu, tanggal 11 Januari 2017, Bang Ai berulang tahun yang ke-33. Selamat ulang tahun, Bang! Sukses terus dan semakin bermanfaat hidupnya untuk orang banyak! Ini kado dari saya ya, bang๐ŸŽ
Johan Rio Pamungkas๐Ÿ˜Ž

*Tulisan ini sudah mendapat izin dari Bang Ai nah pas saya izin ternyata Bang Ai katanya menjadi salah satu Bakal Calon Legislatif dari Partai Keadilan Sejahtera,  saya tau betul Bang Ai itu bukan "darah biru" jadi dengan sendirinya tulisan tentang itu menurut saya sudah patah

**Yang lain gak di-tag karena emang ceritanya tentang Bang Ai kan apalagi ada bang Habibi yang PNS kalo ke-tag bisa-bisa dia kena SP

***Akan dimigrasi ke blogspot satu minggu setelah di FB

****Sekali lagi mohon maaf jika ada yang kurang berkenan, kalau ada tambahan silakan di komentar, gak akan diblok atau di-off kan kok commentnya

Selasa, 20 Maret 2018

Testimoni Untuk Kenalan

Waktu pergantian tahun dari tahun 2017 ke tahun 2018, saya berpikir setahun ke belakang sepertinya kurang sekali menulis. Bahkan, di blogspot untuk pertama kalinya kosong sama sekali tidak ada tulisan. Yah, walaupun di situs lain kayak UC Media dan situs-situs lain tetep nulis tapi kok kayaknya ada yang kurang.๐Ÿ˜•

Emang sih udah ada draft di blogspot cerita umroh tapi palingan itu cuman beberapa. Kemudian, saya jadi teringat ada seseorang di Tanah Suci yang bilang, "Antum jago ya kalo ceritain orang lain." Saya agak bengong pas dia ngomong begitu, tapi, setelah saya pikir-pikir iya juga ya, ada beberapa teman/kenalan yang saya ceritain di media sosial saya. Setelah saya dapet kesadaran saya, saya mau bales eh orang yang ngomong  gitu udah ilang. (cerita lengkap di johanriopamungkas.blogspot.com mulai lusa/ tanggal 14 Januari 2018 biar ngepas sebulan)๐Ÿ˜ฌtambahan: akhirnya belom juga dirilis karena satu dan lain hal :D

Setelah teringat kejadian itu, di tahun 2018 ini, saya memutuskan untuk cerita tentang orang-orang yang saya kenal. Awalnya target satu minggu satu orang artinya akan ada 48 orang dengan 48 cerita dari sudut pandang saya. Tapi setelah lihat-lihat kalender bisa jadi ada yang kosong pas puasa atau lebaran dan lain sebagainya, maka direvisi jadi 40. Itu target realistis sehingga bakalan terdapat 40 orang dengan 40 cerita dari sepenglihatan, sepengamatan dan sekenalnya saya. (Untung targetnya diturunin kalo kagak udah seminggu lewat kagak ceritain orang).๐Ÿ˜…

Jadi, saya akan bercerita tentang orang yang saya kenal atau yang saya tahu. yah semacam testimoni lah, kayak friendster zaman dulu lah, tadinya saya mau namain sedekah testimoni tapi kok rasa-rasanya saya udah kayak ulama fiqih yang jago berfatwa aja menentukan itu sedekah/wakaf/zakat/hibah, maka, saya namain aja "Testimoni untuk Kenalan"✍

Kenapa kenalan? Karena kalo dibilang teman, saya takut ke-PD-an nganggep dia teman, padahal yang saya tulis gak nganggep saya teman๐Ÿ˜จ

Walaupun ada quotes, yang katanya dari istrinya Franklin Delano Roosevelt yakni; Eleanor Roosevelt, dia bilang, "Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people." Tapi, kalo orang-orang berhenti membicarakan orang lain yang menginspirasi maka tidak akan ada biografi-biografi inspiratif macam 'Churchill: A Life', bahkan, kalo dulu Syaikh Mubarakfuri dengerin kata Eleanor itu mungkin gak bakalan ada kisah biografis paling legendaris bertajuk 'Sirah Nabawiyah'๐Ÿ“š

Yah siapa tau kan dari orang-orang yang saya tulis ada yang jadi caleg di tahun depan, kemudian jadi aleg, kan lumayan saya bisa bilang, "Itu kenalan gua tuh." terus tunjukkin postingan saya tentang dia, hahaha.๐Ÿ˜‚

Insya Allah akan dimulai besok, setiap Sabtu, Insya Allah. Untuk testimoni pertama besok, saya akan cerita tentang Ketua BEM waktu saya Maba S-1 tahun 2006, ada yang bisa nebak siapa? (Karena kemarin dia baru saja ulang tahun jadi itung-itung kado).๐ŸŽ

Selanjutnya kalau ada yang mau request ditulis testimoninya bisa tulis di-comment atau PM aja di message terserah mau apaan, WA, IG, FB, Twitter, E-mail, semuanya aktif kecuali yang gak disebut kayak Line, KakaoTalk dan sejenisnya. Tenang gak dipungut bayaran saya bukan buzzer pemilu atau pilkada, cuma mau ngasih pendapat saya aja tentang kalian. Oh, iya, tenang aja, sebelum saya posting, saya minta izin dulu untuk di-posting kok. Kalau pun gak boleh di-posting ya silakan jadi kenang-kenangan atau bahan bacaan buat mengenali diri kalian. ๐Ÿ“–

Selamat berakhir pekan. Salam, dari kenalan kalian, Johan Rio Pamungkas.✋

Postingan asli di Facebook Johan Rio Pamungkas, 12 Januari 2018 pukul 21:18

Kredit Gambar: Dokumentasi Pribadi/Bikinan Sendiri Pakai PicsArt

Minggu, 26 Juni 2016

Percikan Permenungan 21 Ramadhan

Konon katanya, Rasulullah SAW seeing berkhotbah Jum'atan dengan surat yang ke-50. Surat Qaaf. Sebuah surat di antara suratan lainnya yang diawali dengan huruf. Kemudian, dilanjutkan dengan persumpahan.

Spesial tentu saja ini surat. Selain karena dimulai dengan sumpah juga dimulai dengan huruf pertama dari kata "Qur'an".

Tapi kemudian Allah tidak mengatakan isi sumpah seperti contohnya di surat Al-Asr. Allah justru mengalihkan pembicaraan ke lain soalan. Hal ini bisa saja karena memang Allah hanya ingin mengambil perhatian untuk kemudian mengatakan maksud dan tujuan yang sebenarnya yakni menceritakan pendustaan kebenaran.

Allah selanjutnya mengajak untuk memperhatikan langit, bagaimana Dia membangunnya, menghiasinya, tapi tidak terdapat retakan sedikit pun.

Saya sendiri sering melihat langit dan hampir setiap hari melihat langit-langit rumah. Untuk memasang lampu saja, langit-langit rumah harus dibolongin. Sedangkan, Allah memasang lampu yang tahan lama yakni matahari, tidak merusak satu apapun. Justru manusia yang membuat retak dengan membuat bolong lapisan ozon.

Terakhir, ayat yang seharusnya jadi dalil ayat pencinta alam,pendaki gunung dan anak-anak biologi,yakni Allah pancang di bumi gunung yang kokoh, yang di gunung tersebut tumbuh tanaman indah. Ya, sebut saja contohnya edelweiss. Makanya, kalo naek gunung jangan buang sampah sembarangan apalagi kemudian mengambil tanaman.

Mikirin Surat Qaaf ayat 1-7, karena kalo dibilang Tadabbur atau tafakkur terlalu berat kayaknya.

Depok, dipikirkan dari malam 21 Ramadhan, dituliskan sore 21 Ramadhan 1437 H.

Selasa, 07 Juni 2016

Ramadhan Proyektor

Tuhan membelenggu setan pada saat Ramadhan. Begitu sabda Sang Nabi. Maka, pada saat puasa seharusnya manusia menjadi sangat taat. Kita mendaras kitab suci, menyebut nama-Nya senantiasa, berdoa lebih lama dan berbagai macam hal yang membuat seolah bulan ini memang bulan pengabdian kepada Tuhan.

Namun pada realita nyata akhirnya, semua itu hanya teori di atas kertas semata. Qur'an hanya dibaca sekadarnya, tahajud terlewat begitu saja, berdzikir kembali hanya kalau ingat semata. Dan berbagai hal yang pada akhirnya puasa hanya makan dan minum saja, tidak berbeda.

Itulah Ramadhan sebagai proyektor kita. Jika, ketika bulan Ramadhan, tilawah 1 juz, maka kemungkinan besar di luar Ramadhan kita akan tilawah hanya setengah juz, saat bulan puasa kita tarawih hanya sesempatnya saja bisa jadi di luar bulan puasa tidak akan sholat malam sama sekali.

Musababnya apa? Padahal setan sudah dirantai, pintu surga terbuka lebar dan neraka dipersempit. Alasannya, karena pada bulan-bulan sebelumnya sudah terbiasa dengan setan yang membisikkan untuk tidak membaca Qur'an, sudah kerasan dengan tidur terlelap, sudah jamak dengan terlewat menyebutkan.

Maka, jika kita tidak mau usai Ramadhan ibadah kembali menjadi standar bahkan menjadi lebih buruk, silahkan naikkan ibadah dan perbaiki akhlak di Ramadhan ini agar menjadi lebih luar biasa.

Depok, 7 Juni 2016, 2 Ramadhan 1437.

*Disarikan dari nasihat usai Ashar Dr. Deddi Nordiawan di Wisatahati Center

Senin, 06 Juni 2016

Ramadhan Asing

Ramadhan ini beberapa yang kukenal sudah tiada. Mereka yang tidak bertemu bulan suci tahun ini yang kutahu dari mulai anak muda seusia sampai seorang legenda. Kita semua tahu kemarin; Sabtu, 4 Juni 2016, seorang legenda Amerika yang notabene seorang Muslim tidak bisa sampai ke bulan puasa ini. Hari ini, seorang saudara berpulang ke haribaan-Nya. Sungguh benarlah Firman Tuhan yang mengatakan tidak ada yang tahu batas ajal, bahkan ketika tadi di jalan pulang dari tukang cukur, aku mendengar pengumuman dari toa masjid/musholla sekitar ada lagi yang meninggal.

Ada dua pelajaran yang kuambil buatku pribadi. Pertama, bahwasanya tidak peduli kau seorang legenda atau hanya rakyat jelata maut tetap akan menjemput. Kedua, salah satu hikmah ditutupnya pengetahuan manusia tentang ajal adalah untuk melakukan sebaik-baik amal.

Aku prediksi akan berbeda tanpa mereka. Mereka yang biasanya ada sudah pergi untuk selamanya. Tapi seperti ungkapan klasik, "kehidupan harus terus berjalan."

Toh memang setiap puasa tidak pernah sama. Puasa tiap tahun tentu menghasilkan beragamnya pengalaman. Sebagian kemudian berkata, "Gua udah taraweh 20 tahun, gitu-gitu aja tidak berubah." Ya bagi yang seangkatanku, sekiranya rekan-rekanku ini sudah menjalani 600 rakaat taraweh, namun bagi mereka tidak ada yang istimewa.

Mengapa terjadi demikian?

Sederhana saja menurutku penyebabnya: suatu rutinitas yang tidak berubah-ubah dan dijalankan bertahun-tahun tanpa ada pemaknaan mendalam saat menjalaninya.
Aku sendiri secara pribadi tidak ingin sesuatu yang kujalani berlalu tanpa arti, makanya, aku menulis ini.

Ramadhan ini juga terasa asing bagiku yang sekarang. Tidak ada lagi tradisi yang biasanya ada. Tidak ada lagi rekan-rekan seperjuangan yang sepahaman. Akibat tidak adanya rasa yang bertenggangan.

Saat-saat seperti ini aku ingat akan dua perkataan, yakni yang pertama dari Kanjeng Nabi, "Islam memang datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing." Lalu kata Soe Hok Gie, "Lebih baik terasing daripada menyerah oleh kemunafikan.

Semoga saja kita semua dikuatkan.

Senin, 22 Februari 2016

Tentang Film Ummi Aminah

1.film #UmmiAminah itu menceritakan tentang keluarga ustadzah terkenal yang bernama Ummi Aminah

film_indonesia FILM_Indonesia™
dengan suami & 7 anak-anaknya... "@JohanRio film #UmmiAminah itu menceritakan tentang keluarga ustadzah terkenal yang bernama Ummi Aminah

2.liat tweet dari @film_indonesia juga...film #UmmiAminah ini terbagi menjadi beberapa cerita kalau saya boleh bilang

3,dari mulai cerita anak tertuanya Umar sampai anak termudanya Ziah #UmmiAminah

4.nah dari cerita anak-anaknya inilah film terbangun #UmmiAminah

5.yg paling sedih kisahnya Zarika, yg sempet gak diridhoin dunia akhirat sama #UmmiAminah... kebayang gak kalo kita gak diridhoin ibu qt ?

6.asli ini kisah paling sedih,banyak banget yang nangis saat kisah Zarika gak diridhoin #UmmiAminah ini cc : @asmanadia @adeninadlan

7.dan banyak lagi sebenernya kisah sedih di film #UmmiAminah tapi menurut saya kisah Zarika tadi yang paling sedih

8.selain bisa bikin nangis,film ini juga bisa bikin berkata "so sweet" #UmmiAminah

9.saat Zainal dan Rini, sholat di waktu yg sama beda tempat(zainal di penjara), RIni sholat di kamar...what a sholeh couple #UmmiAminah

10.juga dialog2x lucunya si Zubaedah, bisa bikin ketawa #UmmiAminah

11.kualitas akting para pemain dari mulai Nany Wijaya, Paramitha Rusadi, sampai Zee Zee Shahab sangat totalitas #UmmiAminah

12.Pada akhirnya kalau anda suka Emak Ingin Naik Haji, Rumah Tanpa Jendela dan menangis menonton dua film itu maka #UmmiAminah bs membuat...

13.film #UmmiAminah bisa membuat anda menangis dan segera meminta maaf kepada ibu-bapak,kakak dan adik (keluarga) yang sudah mensupport kita

14.Itu tadi versi tweetnya, versi seriusnya baca Koran Jakarta, Sabtu,7-1-2012 yak :)